Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ini Tujuan Mas Ipin Ajak Ratusan ASN di Daerahnya Ikuti Bedah Buku Reset Indonesia

22 Desember 2025 | 16:13 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-22T09:13:00Z
 
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengajak ratusan ASN mengikuti bedah buku Reset Indonesia sebagai refleksi dan muhasabah untuk membangun pemerintahan berkeadilan, berkelanjutan, serta memperkuat ekonomi daerah yang ramah lingkungan.

Solidaritas.Online - Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengajak ratusan ASN di daerahnya mengikuti bedah buku Reset Indonesia-1, di Amphiteather Hutan Kota Trenggalek, Senin (22/12/2025). 

Buku ini merupakan karya kolaborasi empat jurnalis lintas generasi (Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, Benaya Harobu) yang mengupas persoalan struktural dan menawarkan solusi untuk Indonesia melalui riset lapangan dan ekspedisi jurnalistik selama 15 tahun, dengan fokus pada isu agraria, lingkungan, dan kebijakan publik untuk mewujudkan negara yang lebih berkeadilan bagi warganya. 

Tidak bermaksud ikut mengkritisi kebijakan pemerintah pusat, tujuan kepala daerah muda ini mengajak ASN di daerahnya ikut dalam kegiatan bedah buku ini tujuannya untuk mengkritisi diri sendiri untuk saling membuka cakrawala untuk bisa berbenah ke arah yang lebih baik. 

Kenapa demikian, karena menurutnya paling bertanggungjawab membawa perubahan di Kabupaten Trenggalek salah satunya adalah pemerintahnya.

Bupati Trenggalek usai bedah buku ini, menyampaikan, "dari keseluruhan buku sebenarnya saya paling setuju dengan gagasan bagaimana ekonomi yang baik dengan ekologi. Itu jugakan yang menjadi konsentrasi dari Trenggalek," katanya dalam kesempatan itu.

Kemudian yang kedua, sambungnya menambahkan kalau ingin melihat Indonesia yang baru, yang baik, yang lebih baik maka harus diawali dari diri kita dulu. 

"Makanya yang paling bertanggungjawab membawa perubahan di Kabupaten Trenggalek salah satunya adalah pemerintahnya. Makanya ASN di Trenggalek kita ajak untuk mengkritisi diri sendiri untuk saling membuka cakrawala untuk bisa berbenah ke arah yang lebih baik," imbuhnya.

Dan yang ketiga, tadi saya tugaskan untuk mulai dari sekarang kita boleh punya logika kapital. Artinya kita berusaha untuk memperkuat kapasitas fiskal kita. 

Kita memperkuat struktur ekonomi kerakyatan kita. Tetapi dengan performa yang environmental atau yang berkelakuan ramah dan juga menjaga alam. Dan yang paling penting jiwanya harus berkeadilan sosial.

Jadi semua yang kita dapatkan nanti di negara ini harus kita kembalikan untuk semakmur-makmurnya dan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. 

Kalau seperti tadi itu kan diskusi bagaimana kita memberikan keadilan air bersih. Caranya dengan sebisa mungkin kita memberikan pelayanan yang prima. 

Tapi pelayanan prima tidak ditopang dengan kesehatan neraca keuangan, maka kita tidak bisa memperbaiki, maka kita tidak bisa menambah. Makanya juga harus dicarikan cara lain untuk bisa mendapatkan pendapatan.

Salah satunya sekarang kita punya lini AMDK, kedepan kita prioritas melayani sentra-sentra industri dan lain sebagainya untuk air, untuk kepentingan bisnis. Harapannya keuntungan dari situ, kita investasikan lagi untuk pelayanan air bersih kepada masyarakat. 

Kepala daerah muda ini menampik Trenggalek dibilang zero penebangan. "Tidak, karena kita masih punya beberapa hutan produksi kayu, khususnya sengon. Tetapi rata-rata di hutan rakyat. Tetapi fungsi hutan-hutan lindung, hutan yang masih produksi tanah negara kita maksimalkan untuk menanam tanaman yang ekonomis, yang pohonnya tidak perlu ditebang. Jadi itu cara kita menjaga hutan kita," jelasnya.

Kere nanging ora sepele, maksudnya kere itu dengan fiskal yang terbatas jangan menyerah dengan keadaan. Itu pesen untuk ASN untuk kita bisa terus berinovasi. Meskipun fiskal kita paling kecil se-Jawa Timur, akan tetapi bukan berarti kita tidak punya kekuatan untuk bisa melakukan perubahan.

Sementara itu untuk kegiatan bedah buku seperti ini, Mas Ipin menegaskan. "Saya sangat merekomendasikan karena orang yang tidak maju adalah orang yang gagal mengkritik atau bahasa Islamnya melakukan muhasabah di dalam dirinya sendiri," ajaknya.

Selama kita tidak menggugat pikiran kita sendiri, selama kita  tidak mengkoreksi perilaku kita sendiri maka bisa dipastikan jalannya kita tentu tidak akan baik-baik saja. 

Makanya saya merekomendasikan buku ini, kepada siapapun khusunya bagi para pemegang amanah untuk kita terus mencari alternatifnya. 


(Ferina)
×
Berita Terbaru Update