Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Daging Mahal Jelang Lebaran, Permintaan Tinggi dan Distribusi Jadi Faktor

17 Maret 2026 | 21:13 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-17T14:13:03Z
Harga daging sapi dan ayam mengalami kenaikan signifikan menjelang Lebaran 2026. Lonjakan dipicu tingginya permintaan selama Ramadan serta faktor distribusi dan biaya produksi. (Gambar Ilustrasi) 

Solidaritas.Online - Kenaikan harga daging sapi dan ayam kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia menjelang Idul Fitri 2026. Fenomena ini dinilai sebagai pola musiman yang berulang setiap tahun, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadan.

Lonjakan harga tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya permintaan, tetapi juga menjadi indikator bahwa sistem distribusi dan pasokan pangan domestik masih perlu diperkuat agar fluktuasi serupa tidak terus terjadi.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, mengungkapkan bahwa konsumsi daging selama Ramadan hingga Lebaran mengalami peningkatan signifikan, bahkan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan hari biasa.

“Tradisi kuliner Ramadan seperti rendang, semur, hingga opor ayam membuat kebutuhan protein hewani meningkat signifikan. Ditambah lagi momentum mudik yang mendorong konsumsi rumah tangga menjadi lebih besar,” ujarnya.

Berdasarkan data pasar, harga daging sapi kualitas 1 secara nasional pada pertengahan Maret 2026 tercatat sekitar Rp146.600 per kilogram. 

Angka tersebut telah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp140.000 per kilogram untuk bagian paha belakang.

Di wilayah Jakarta, harga daging sapi bahkan berada di kisaran Rp145.000 hingga Rp150.000 per kilogram. Angka ini meningkat dibandingkan awal Ramadan yang masih berada di rentang Rp130.000 hingga Rp135.000 per kilogram.

Tidak hanya daging sapi, harga ayam ras juga mengalami kenaikan. Secara nasional, harganya mencapai sekitar Rp41.950 per kilogram. Sementara di beberapa pasar tradisional di Jakarta Timur, harga ayam yang sebelumnya berkisar Rp45.000 per kilogram kini naik hingga Rp50.000 per kilogram.

Menurut Noviardi, kenaikan harga tidak semata-mata disebabkan oleh lonjakan permintaan. Faktor biaya produksi di tingkat peternak juga turut memengaruhi.

“Harga sapi hidup di tingkat peternak saat ini sudah berada di kisaran Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram karena biaya pakan meningkat. Sementara pada komoditas ayam, harga di tingkat peternak sekitar Rp22.000 per kilogram bisa menjadi lebih dari Rp40.000 per kilogram di pasar akibat rantai distribusi yang panjang,” jelasnya.

Selain itu, ketergantungan pada impor sapi bakalan membuat harga dalam negeri rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah serta biaya logistik global.

Di sisi lain, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan menjelang Lebaran. 

Upaya tersebut meliputi pengawasan distribusi oleh Satgas Pangan Polri, operasi pasar, serta penyediaan stok penyangga oleh Perumda Dharma Jaya melalui penjualan daging beku dengan harga di bawah HAP.

Noviardi menilai langkah tersebut cukup efektif untuk menahan gejolak harga dalam jangka pendek. Namun, ia menekankan bahwa solusi jangka panjang tetap harus difokuskan pada penguatan sektor peternakan dalam negeri.

“Momentum Ramadan dan Lebaran selalu menjadi ujian bagi sistem distribusi pangan kita. Dalam jangka panjang, solusi utamanya tetap pada penguatan produksi domestik, efisiensi rantai distribusi, serta manajemen stok yang lebih baik,” katanya, Selasa 17 Maret 2026.

Ia juga memperkirakan harga daging sapi masih berpotensi naik hingga kisaran Rp150.000 sampai Rp170.000 per kilogram mendekati H-3 Lebaran, terutama di daerah dengan tingkat permintaan tinggi seperti Jawa Barat dan Jakarta.

Meski demikian, kenaikan tersebut diprediksi hanya bersifat sementara. Setelah Lebaran, permintaan biasanya menurun dan harga akan kembali menyesuaikan secara bertahap.
×
Berita Terbaru Update